Zi, Penghuni Gang Kelinci
Tiada hujan tiada angin, hujan deras mengguyur kota Banda Aceh. Kutengok jam dinding, ”mmm... pukul delapan tepat,” baca hatiku menyepakati mata. Tok, tok, tok, pintu kamarku diketuk orang. Pasti Tina, teman yang menempati kamar sebelah. ”Enggak jadi keluarlah kita, hujan!,” teriaknya nyaring , menyaingi bunyi hujan yang mendentingi atap seng rumah pondokanku. Aku menuju pintu, membukanya sedikit, sekedar bisa melongokkan kepala. ”Baiklah, batal,”. Tina tampak cantik dengan tata rambut barunya. Warnanya pas sekali dengan warna kulit kuning langsatnya. Dengan langkah gontai, ia berlalu dari hadapanku.
Aku mengganti baju, menyetel kaset Siti Nurhaliza. Lalu, kuputuskan untuk tidur-tiduran saja. Sebelumnya aku telah melayangkan pesan singkat (SMS) ke Dany, teman terdekatku, memberitahukan bahwa acara kumpul-kumpulnya batal.
Bermula dari boneka
Ingatanku melayang ke kampung halaman di Lhokseumawe yang sudah kutinggalkan sejak November 2004. Berkelebat bebayang masa lalu yang tertinggal pada tetanah basah, halaman rumah, gedung sekolah, hiruk pikuk kota, lalu lalang manusia di jalan, sebagian bibir-bibir pantai tempat aku berlarian bersama teman-teman sewaktu hujan. Semuanya hadir di benak ingatan, serempak.
“Rul, boneka dan mainan masak-masakannya disimpan dulu ya,” ibuku mengingatkan ketika dilihatnya aku hendak berlari ke luar memenuhi panggilan si Man, Pi’i dan Dolah. Aku acuh, terus saja keluar. Dalam hati aku berkata, ibu saja yang membereskan. Sudah adatnya, setiapkali aku meninggalkan mainan-mainanku berantakan, ketika pulang, telah dirapikan, dimasukkan kembali ke dalam keranjang. Ibu selalu membuatku merasa nyaman bahkan untuk kesalahan yang aku lakukan.
Saudara-saudaraku kerap keberatan kalau aku diperlakukan begitu manja. Bisa jadi karena aku bungsu dari lima bersaudara. Meski tidak terima, sebenarnya mereka sayang padaku, aku bisa merasakannya. Abang tertuaku, walaupun sudah berkeluarga, masih tetap memperhatikanku, Lebih-lebih ketika aku menempuh Sekolah Menengah Keterampilan Keluarga (SMKK), dialah yang membantu biaya pendidikanku. Dua kakakku apalagi, mereka sering membelikan baju, memberi jajan dan mengajak jalan-jalan tanpa rasa malu karena perbedaan. Abang yang persis di ataskupun sama, walau caranya berbeda. Bagiku, alasan mengapa mereka menyayangiku, bukanlah sesuatu yang penting untuk diketahui, yang kubutuhkan mereka menerima dan menyayangiku apa adanya. Kuharap, lingkungankupun begitu pula adanya.
Menginjak remaja
Firdaus. Nama itu terukir indah di benakku, tak mungkin kulupakan. Dialah yang membelaku dari ejekan teman-teman, ketika karena kelembutan, aku dijadikan bulan-bulanan para cowok, teman satu sekolahku di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dalam memoriku, ia hadir sebagai sosok yang baik, tulus dan penuh kasih.
Aku sangat menikmati waktu-waktu ketika bersamanya karena merasa dilindungi, diperhatikan dan dihargai. Singkatnya, dengannya aku merasa nyaman. Sesuatu yang kubutuhkan, selain dari keluarga. Sayangnya semua harus berakhir ketika masa akhir tahun ajaran tiba. Firdaus lulus dan akan melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Sedangkan aku masih duduk di kelas dua SMP.
Kekhawatiran menghiasi pikiran. Tentu karena aku merasa ngeri, kembali sendirian di lingkungan yang menganggap aku kurang normal. Aku sempat kehilangan arah, namun aku terus berusaha menerima keadaan diriku, bertahan. Berkat dukungan keluarga dan beberapa tetangga yang memahami, perlahan, aku bisa menanamkan kesadaran bahwa aku memang begini adanya. Aku lembut. Aku lebih menyukai hal-hal yang lazim digemari kaum hawa.
Dengan kesadaran itu, aku memilih melanjutkan pendidikan di sekolah kejuruan. SMKK menjadi pilihan. Aku memilih jurusan salon dan kecantikan. Dengan keahlian yang aku miliki, aku ingin bisa membiayai hidup dan membantu orangtua. Aku ingin berguna bagi mereka. Aku tidak menyesali pilihan itu. Aku mendapati duniaku di sana.
Impian tentang mudahnya mendapat pekerjaan menjadikanku kian bersemangat meniti masa depan. ”Ah, kalaupun nanti sulit memperoleh pekerjaan, aku toh masih bisa coba jual jasa dengan keahlian yang aku punyai, atau kalau ada modal, aku bisa membuka salon walau kecil-kecilan”gumamku dalam hati.
2003, aku lulus dari SMKK. Menjelang masa untuk bekerja. Tanpa lika-liku yang panjang, aku mendapatkan pekerjaan. Duniaku kini jadi kian sempurna. Di salon tempat aku bekerja untuk pertama kalinya, aku mendapatkan teman-teman yang nasibnya sama, terusir dari lingkungan yang berpikir mereka tidak ada cacatnya.
”Rul, kita-kita kan punya nama gaul ni?, kamu masak masih dipanggil Rul atau Syahrul?”. Kenes, Nola melontarkan usulnya. ”Iya...”, Neta menimpali enggak kalah kenesnya. Tangan keduanya tak henti mempermainkan rambut merah terang mereka. Melihat itu, aku seperti bercermin, ”seperti itukah aku juga”, gumam hatiku bertanya. Masih saja ada sisi hati yang tidak rela, tapi aku memang seperti mereka.
”Rul, tidak apa-apa kamu lembut, penuh perasaan, tapi ibu tidak mau kamu ikut-ikutan memanjangkan rambut, pakai baju perempuan dan bersolek menor seperti teman-teman kerjamu, apalagi suntik silikon, ibu mohon jangan lakukan itu”, aku terngiyang penerimaan bersyarat ibuku pada suatu petang. ”Hei, kok malah melamun sih?”, Nola mengibaskan tangannya di depan mataku yang lurus memandang. Aku menarik nafas dalam-dalam, ”Kita panggil kamu Zi aja ya?”, serbu Neta. Entah, aku menerima saja usulan mereka. Jadilah sejak itu aku dikenal dengan nama baru itu, ”Zi”, keren juga pikirku.
Menghuni Gang Kelinci
Aku merasakan kejenuhan yang tak terbendung. Keinginan mendapatkan lingkungan yang lebih mendukungku merajai hati. Hari demi hari, harapan untuk menentang hidup kian menguasai seluruh pikiran. ”Ke Medan saja”, perintah otakku, ”Ke Banda Aceh saja”, bisik hatiku. Ah, aku gundah, bingung mau mengikuti yang mana.
Keluarga tidak menyetujui kalau aku ke Medan tapi membolehkan aku ke Banda Aceh. Kenyataan itulah yang akhirnya membantuku dalam pengambilan keputusan. Tanpa Nola dan Neta, aku berangkat ke ibu kota propinsi tercinta. Sepanjang perjalanan, walau dengan keraguan yang tak dapat kusembunyikan, aku menyemai harapan bahwa aku akan mendapat pekerjaan, teman-teman baru dan juga lingkungan baru yang mendukung keberadaan orang sepertiku.
Menumpang di rumah saudara jauh, aku mulai menyusuri kota Banda Aceh. Dengan mudah dan dalam waktu yang singkat aku mendapat pekerjaan di sebuah salon kecantikan yang cukup terkenal. Kenyataan itu mengajariku untuk senantiasa bersyukur dan yakin bahwa Tuhan memang maha pengasih-penyayang. Banyangan yang kubangun semula bahwa sebagai ibu kota propinsi, lebih ramah daripada kota kelahiranku, sepertinya terbukti sudah. Dan, aku bahagia.
Kenyataan bahwa perbedaan penampilan menjadi sesuatu yang dibicarakan memang selalu ada. Begitupun di lingkungan tempat tinggalku sekarang. Sebenarnya aku sudah bisa terima itu sebagai sebuah kebiasaan yang biasa-biasa saja. Ya, aku sudah tidak lagi terluka ketika ada suitan nakal dari para bujang atau diikuti rombongan anak-anak kecil yang riang. Mungkin itu sebuah penerimaan diri yang utuh atau sebuah kepasrahan yang terbentuk karena kelelahan yang dalam. Ah, aku tak tahu pasti. Yang kutahu, aku tidak boleh menjadi penyebab saudara jauhkuyang telah memberi aku tumpangan tempat tinggal menjadi terbebani. Dengan alasan aku ingin mandiri, aku memberitahu bahwa aku ingin pindah saja.
Gang Kelinci, Kuta Alam. Itu domisili yang kemudian menjadi pilihan. Di sana, aku dan teman-teman yang umumnya bekerja di salon kecantikan mengisi waktu-waktu istirahat dari kelelahan bekerja, dari kelehan rasa karena dianggap berbeda. Di komunitas itu aku merasa aman dari gangguan, dan yang lebih penting, tidak mengganggu orang lain.
Komunitasku memilihnya Gang Kelinci karena terletak di tengah-tengah kota, tempat kami bisa berkreasi dan berekspresi lebih terbuka. Terkadang, ketidakpedulian warga kota menghadirkan kenyamanan terhadap perbedaan yang ada. Dan, tsunami Desember 2004 pun tak merubah pilihan untuk tetap bertahan tinggal di sana.
Si Tersisih di Negeri Syari’ah
Tok, tok, tok, “Zi, buka pintunya.” Teriakan Dany seperti mengembalikanku dari masa lalu, ”cepat, buka.” Dany menyempurnakan seruannya. Tanpa ba bi bu dan tergopoh-gopoh tak sabar, ”Lince sama Lisa dijambret, HP Lince berhasil direbut mereka.”. Dany nyerocos. ”Lince dan Lina sekarang ada di mana?,” sergahku ikut-ikutan tergopoh. ”Itu, di depan gang. Mereka masih di sana,” tukas Dany. Kuraih jaketku yang tergantung di belakang pintu, aku dan Dany segera keluar. Di depan pintu, tampaknya, hujan telah menyisakan rintik gerimis saja. ”Wisataku, ke masa lalu” barusan, agaknya menjadikanku tak menyadari bahwa hujan sedang akan berhenti. Dan, pasti Siti Nurhalizapun sudah menyudahi bernyanyi.
”Bagaimana ini? Kita mesti melakukan apa?,” denga sedih, Lince bertanya. Hening, tidak ada yang bicara. ”Ok, kita lapor polisi saja,” usulku memecah keheningan. Dany, Lince dan Lisa saling berpandangan. Aku membaca keraguan di mata mereka. ”Ayo, cepatan!.” Tanpa berkata apa-apa mereka mengikuti langkahku ke arah kantor Kepolisian Resort (Polres) Banda Aceh yang letaknya hanya dua ratus meter saja dari gang kelinci. Tak ada yang bicara. Entah apa yang mereka pikirkan. Apakah sama dengan apa yang aku khawatirkan, bahwa laporan kami hanya akan terhenti sebagai sebuah laporan dan kemudian tak dihitung dalam urutan kasus yang akan diselesaikan?.
Kami mengumpulkan seluruh keberanian yang dipunyai. Seperti berhitung satu-dua-tiga, langkah kami serentak menuju pos jaga. Dua orang pemuda tegap, ganteng dan berseragam polisi menyambut kehadiran kami. Pada awalnya mereka ramah-ramah saja. Namun segera seiring waktu, keaslian karakter yang sudah melembaga keluar juga. Mereka mulai menggoda kami dengan pertanyaan nakal mereka. Dan, kalau dalam keadaan biasa, kami akan merasa tergoda. Tapi kenyataannya sekarang tak sama, kami semakin merasakan diperlakukan berbeda.
Dalam keadaan tertekan, kami menyelesaikan laporan. Sedangkan teman-temanku sudahpun kehilangan kata-kata, karena lunglai oleh pelecehan-pelecehan yang keluar dari ujaran para pengayom rakyat. ”Mereka tidak pantas menjadi aparat negara,” jerit batinku di kedalaman luka. Selalu seperti itu, kami tak merdeka. Ekspresiku terhenti di batas hati atau paling hebat hanya tersekat di kerongkongan belaka.
Gerimis sudah berlalu. Langit beranjak remang, meninggalkan gelap yang menginringi hujan. Dengan langkah gontai, aku dan teman-teman yang terpinggirkan dari kehidupan, melangkah pulang. Di komunitas Gang Kelinci, kami berharap memperoleh perhatian, kenyamanan yang saat ini betul-betul kami dambakan.
Benar saja, lebih dari sepuluh teman, sudah berkumpul di kosku. Ditemani Tini, mereka menunggu kepulangan kami, menanti cerita tentang perjuangan untuk, mendapatkan hak sebagai warga masyarakat. Tiba-tiba ada rasa kagum dan bangga membuncah di hatiku –barangkali demikian pula di benak Lince, Lisa dan Dany. Dalam keadaan yang dianggap berbeda dan dengan kekurangan yang ada, kami masih miliki rasa cinta dan kepedulian sosial.Cinta kami tersebut bukan hanya di antara kami yang terpinggirkan, melainkan juga terhadap sesama makhluk tuhan.
Aku masuk ke dalam, kubiarkan Lince, Lisa dan Dany saja yang akan menceritakan pelaporan kami ke Polres dan hasilnya. Seperti baru berlari puluhan kilometer, rasa lelah mendera, tidak hanya pada raga, melainkan juga jiwa. Tubuh kurebahkan di ranjang lajang yang berantakan. Rasanya, aku ingin sejenak berhenti berpikir bahwa aku dan komunitasku berbeda. Kami telah terpinggirkan dari kehidupan yang dianggap normal dan didiskriminasikan dalam aturan-aturan. Tapi, mana berdaya kami. Tetap saja peristiwa-peristiwa yang terjadi padaku, dan juga teman-temanku menyetiai perjalanan. Saling merangkai, hingga berkelin-kelindan dan susah terurai.
Untuk ke kesekian kalinya, jam dinding kamarku, kulirik. Jarum panjangnya tepat di atas jam sembilan, jarum pendeknya sedikit melewati angka sepuluh. Malam masih panjang. Besok masih akan datang. Kehidupan harus diteruskan. Sedangkan aku dan teman-temanku rasa-rasanya terlalu lelah sudah. Kemarin, dua temanku ditangkap polisi syari’ah yang berpatroli menyisir kota. Syila yang sedang menyelesaikan penyisiran rambut pelanggan salon yang baru saja selesai direbonding, kaget dan terkejut. Sampai-sampai sisir di tangannya terlepas. menggelinding, tergeletak, tak bisa berbuat apa-apa. Seisi salon menjadi hiruk pikuk, yang kebetulan atau sengaja berada di sana berlarian, ketakutan.
Maya, teman Syila yang sedang mendengarkan musik dari walkman, tak mendengar kegaduhan itu. Al hasil, dia turut terjaring, bukan oleh jaring melainkan oleh aturan. Maya tak bisa berbuat apa-apa, tak berdaya. Bak pasangan raja diraja yang dirayakan pernikahannya, diaraklah mereka keliling kota.
Pada gemuruh yang tak mampu tertahan lagi, aku mendendam pada manusia yang merasa dirinya seakan-akan telah menjadi Tuhan. Tuhan saja tidak begitu, pikirku. Ironisnya, di negeriku sendiri, aku merasa amat terzalimi. Piluku menyayat. Aku menggugat, dengan cara berpikir macam apa sih, orang-orang yang menganggap diri mereka normal itu mengenali Tuhannya? Apakah Tuhan itu kejam, atau sebaliknya, penuh kasih sayang?.
Jujur saja, jauh di lubuk hati, aku sungguh takut untuk mempertaruhkan keyakinanku. Aku ingin melawan pandangan dan kesimpulan manusia-manusia yang disusun-pancangkan sebagai hukum yang laksana wahyu. Semoga bukan lantaran sebagai warga Gang Kelinci saja, sehingga kami merasa seperti para kelinci percobaan yang mudah dipermain-mainkan d inegeri ini. Tak berbeda dengan Maya-maya yang lain, aku, Zi, ditengah negeri yang berqanun syari’ah ini, tetap saja adalah si lemah, tersisih dan terpinggirkan. Kami teronggok, tiada berdaya.
Dan, tatkala malam beranjak menepi, kerapkali aku mengadu kepada-Nya.
Tuhan, aku tak pernah dan tak kuasa memilih menjadi yang sekarang ini. Kaulah yang kuasa memutuskan-Nya. Jadi, tolong yakinkan padaku, apakah saat ini aku sedang hidup di alam mimpi? Kalau tidak, kehidupan macam inikah yang layak disebut sebagai sebuah kenyataan?

Leave a Comment